Sisa pulau aslinya dan daerah yang hilang menjadi laut dangkal.
Pada awal tahun 1927 aktivitas vulkanik mulai terlihat di titik yang terletak di antara bekas puncak Gunung Perboewatan dan Gunung Danan.
Ini adalah penampakan singkat dari sebuah pulau kecil yang tenggelam oleh gelombang laut dalam waktu seminggu.
Beberapa bulan kemudian, aktivitas vulkanik mulai menciptakan formasi daratan yang lebih permanen yang akibat hujan dan gelombang, kembali runtuh di bawah laut setelah aktivitas vulkaniknya terhenti.
Proses ini berulang beberapa kali selama tiga tahun berikutnya.
Pada tanggal 11 Agustus 1930, pulau vulkanik ini secara permanen berada di atas permukaan laut, dan secara lokal diberi nama Anak Krakatau.
Sejak saat itu, tempat ini menjadi lokasi terjadinya letusan berulang.
Titik tertinggi Anak Krakatau meningkat rata-rata 7–9 meter per tahun hingga September 2018.
Aktivitas vulkanik G. Anak Krakatau masih sangat aktif sejak erupsi tahun 2018 yang telah mengubah morfologi tubuhnya yang disertai dengan kejadian tsunami Desember 2018.
Hingga saat ini aktivitas erupsi masih terjadi setiap tahunnya dan selama tahun 2023 telah terekam sebanyak 415 kali Gempa Letusan dengan ketinggian kolom erupsi bervariasi antara 50 – 3500 meter di atas puncak.(*)