Elda mengatakan kalau perawat tersebut mengaku keteteran karema hanya dua orang yang bertugas untuk menangani 32 pasien kala itu. Pihak keluarga, kata Elsa, terutama si bayi tidak ditangani dengan baik. Seharusnya pelayanan yang berlaku tidak demikian. Perawat sewajibnya bergerak cepat.
"Bayi itu dilihat bajunya basah, ada bercak darah bekas operasi. Diganti, kek, tapi ini nggak, dibiarkan saja bayi dengan popok yang berlumuran darah bekas operasi," katanya.
Ironisnya dokter BR yang menjual alat medis dengan pasien itu tidak lagi melihat kondisi si bayi pasca operasi. Dokter itu bilang kalau dia memantau di balik layar. Keterangan ini ada di balasan pesan dokter BR dengan keluarga pasien di aplikasi WhatsApp. Dari pengakuan Elda, ada satu dokter visit berinisial AN, yang sempat datang.
"Datang memacu jantung pada saat kondisi si bayi sudah tersengal-sengal dengan tubuh yang membiru," katanya.
Saat ditanya perihal keterangan dokter terhadap kondisi bayi pasca operasi, keluarga pasien mengatakan penjelasan yang diberikan dokter bahwa pasca operasi itu baik-baik saja. Sampai akhirnya ajal menjemput lantaran kondisi jantung bawaan si bayi.
Pada saat kondisi genting, keluarga pasien disarankan membawa si bayi ke PICU. Namun, ruangan PICU penuh, dan si bayi dibantu dengan alat pernapasan sampai akhirnya bayi mengembuskan nafas terakhirnya. Fakta janggal lainnya juga menyeruak ke permukaan.
Tepatnya waktu keluarga pasien diminta mencari PICU di RS Urip Sumoharjo, Bandar Lampung. Lagi-lagi keluarga pasien yang berjuang mencari informasi terkait ketersediaan pelayanan PICU. Elda mengaku pihaknya sangat dibuat kecewa. Kenapa pihak keluarga pasien yang mencari sendiri.
"Bukankah seharusnya yang berkomunikasi soal ketersediaan alat bantu itu antara rumah sakit dengan rumah sakit yang paham akan prosedurnya," kata dia.