RADARLAMSEL.DISWAY.ID, LAMPUNG SELATAN - Aksi yang dilakukan Cipayung Plus, dan BEM se-Lampung Selatan rupanya tidak main-main. Ratusan mahasiswa dari beberapa organisasi itu melayangkan satu permintaan khusus. Mereka ingin bertemu dengan Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama.
Rombongan Cipayung Plus dan BEM memulai aksi melalui orasi. Mereka berkali-kali meminta bertemu orang nomor satu di Bumi Khagom Mufakat itu. Hal itu diselingi dengan suara tujuh tuntutan. Pertama, mahasiswa mendesak pemerintahan Lampung Selatan menjalankan pemerintahan yang insklusif dan transparan.
Kedua, mendesak penguatan SDM melalui pendidikan formal maupun non-formal. Serta penyediaan beasiswa penuh bagi puta daerah untuk jenjang S1, S2, dan S3. Ketiga, mendesak Bupati Lampung Selatan segera memberi kepastian hukum untuk kesejahteraan bagi THLS di Pemkab Lampung Selatan.
Tuntutan keempat, Bupati Lampung Selatan mengeluarkan Perbup (Peraturan Bupati) yang mewajibkan setiap perusahaan yang berdiri di wilayah Lampung selatan untuk menyerap minimal 80 persen tenaga kerja lokal. Kelima, mendesak perbaikan struktur pemerintahan agar lebih efisien dan meningkatkan pelayanan publik.
Keenam, menuntut pemerataan infrastruktur yang berkeadilan di seluruh wilayah dan rumah layak huni dan kepastian hukum. Ketujuh, memberantas pungli (pungutan liar) di internal pemerintahan Lampung Selatan terkait perizinan dan terkait instansi lainnya.
Tujuh tuntutan yang dilayangkan mahasiswa diwarnai teriakan, perjalanan, pengorbanan, dan bentuk kesetiakawanan. Dari kantor bupati, mereka melanjutkan orasi ke kantor DPRD, lalu kembali ke kantor bupati lagi. Mereka juga bertemu pejabat-pejabat yang menjadi perwakilan.
Menunggu hampir sejam lamanya, perwakilan mahasiswa akhirnya diperbolehkan masuk ke kantor bupati. Di sana, mereka diterima perwakilan pemerintah daerah. Ada Darmawan, Asisten Pemerintahan dan Kesra, Erdiyansyah, Kepala Dinas PMD, Anton Carmana, Staf Ahli Bupati Bidang PHP, dan Maturidi selaku Kasat Pol-PP.
Rupanya perbincangan yang berlangsung cuma beberapa menit itu tak membuahkan hasil, dan membuat perwakilan mahasiswa keluar dari kantor bupati. Rombongan pejabat yang melihat mereka keluar ikut menguntit sampai ke gerbang. Sampai akhirnya Darmawan berbicara.