Biaya Produksi Padi Membengkak
PALAS – Dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) kini mulai dirasakan petani di wilayah Palas. Kenaikan harga BBM ini mempengaruhi biaya olah tanah dan panen yang telah menggunakan tenaga mesin. Salah satu yang paling dirasakan petani saat ini yaitu biaya panen padi yang mengalami kenaikan Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu per hektar. Ketut Purne (45) salah satu petani Desa Bali Agung, Kecamatan Palas mengatakan, kenaikan jasa panen menggunakan mesin Combine Harvester tentu menjadi keluhan petani. Beruntung pada musim panen gadu tahun ini petani masih diganjar dengan harga gabah yang cukup tinggi.
“Petani pada musim panen saat ini beruntung diganjar dengan harga gabah yang tingg, Rp 5.200 per kilogram. Tapi saat ini semua kebutuhan produksi padi semua mengalami kenaikan,” kata Ketut kepada Radar Lamsel, Selasa (18/10) kemarin.Pada musim panen saat ini saja, petani harus membayar jasa mesin Combine Harvester sebesar Rp 2,2 juta perhektar, atau mengalami kenaikan sebesar Rp 200 ribu dibandingkan pada musim panen sebelumnya. Tak hanya di musim panen saja, pada tahap olah tanah yang juga telah menggunakan mesin juga turut mengalami kenaikan sebesar Rp 200 ribu per hektar.
“Semua naik, belum lagi dengan harga obat-obatan turut berpengaruh dengan kenaikan BBM. Kalau dengan harga sekarang ini petani masih dapat untung, tapi kalau harga gabah sudah dibawah Rp 4.500 per kilo petani padi sulit mau dapat untung,” sambungnya.Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bali Jaya, Desa Bali Agung, Dewa Aji Sastrawan menjelaskan, melonjaknya biaya produksi padi dari dampak kenaikan BBM merupakan hal wajar. Namun ia berharap kenaikan biaya produksi padi ini harus diimbangi dengan harga jual padi yang tinggi.
“Kalau produksi naik ya wajar, karena semuanya pakai BBM. Tapi harapan kita kalau biaya produksinya naik, harga hasil produksinya juga ikut naik. Setidaknya tidak boleh dibawah harga yang telah ditetapkan pemerintah yaitu sebesar Rp 4.450,” harapnya. (vid)
Sumber: