"Mesin kapan Pak Direktur? Kita harus punya, kalau begini terus biaya cuci darah cuma buat mondar-mandir ke Bandar Lampung," katanya.
Taman meminta direktur mencari titik-titik lemah di rumah sakit pelat merah itu. Apalagi menyangkut pelayanan dan bersentuhan langsung bdengan masyarakat. Kalau memang ada hal yang harus diganti, kata Taman, maka direktur wajib menggantinya dengan yang lebih baik.
"Apabila memang tidak memungkinkan harus diganti, diganti saja. Direktur punya kewenangan itu," katanya.
Asmara, Anggita Komisi IV DPRD Lampung Selatan, mengaku terenyuh setelah mendengar cerita tentang pasien yang diminta uang antar ambulans oleh RSUD Bob Bazar Kalianda. Menurut Asmara, jajaran direksi rumah sakit seharusnya tidak membiarkan hal itu terjadi.
"Terus terang saja Pak Direktur, saya sedih pas tahu cerita ini. Kena musibah, kok, dimintain duit lagi," ujarnya.
Ketika seluruh anggota Komisi IV DPRD Lampung Selatan menyuarakan pendapatnya, Djohardi lebih banyak diam. Dia hanya sibuk mencatat di atas kertas. Djohardi menyampaikan permohonan maaf atas kejadian itu. Termasuk perihal anggapan anggota DPRD terkait komunikasi yang buruk.
"Saya minta maaf karena hp tidak terbawa. Kami akan berupaya merubah bila ada hal berkaitan dengan pelayanan," katanya.