Perbaiki Irigasi, Kalau tak Mau Banjir Lagi!!

WAYPANJI – Warga Desa Sidoharjo Kecamatan Way Panji mendesak Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, segera membenahi irigasi diareal persawahan. Bila tak segera dibenahi bukan tak mungkin banjir kembali merendam pemukiman warga. Kapasitas irigasi yang kurang mumpuni disinyalir menjadi pemicu Desa Sidoharjo menjadi langganan banjir. Terutama pemukimannya. Terakhir, sebanyak 64 rumah di Dusun Bandung dan Dusun Kediri terendam banjir setinggi lutut. Ketua RT 01 Dusun Bandung Suwandi mengatakan irigasi yang ada saat ini tidak cukup kuat menampung debit air berlebih. Apabila terjadi hujan lebat maka dapat dipastikan air akan keluar dari saluran irigasi dan merambah kepemukiman warga. “Irigasinya sepanjang Dusun Bandung sampai Dusun Kediri, otomatis kalau hujan lebat maka dua dusun ini yang terancam kebanjiran. Sudah berkali-kali soalnya, seperti jadi rutinitas,” kata dia kepada Radar Lamsel, Minggu (4/3) kemarin. Dijelaskan apabila Pemkab dalam hal ini DPUPR Lamsel tak segera membenahi irigasi atau paling tidak normalisasi maka kemungkinan datangnya banjir masih sangat terbuka. Apalagi sambungnya, intensitas hujan diprediksi masih akan berlangsung hingga Mei mendatang. “Kalau masih belum diperbaiki ya, kehawatiran akan datangnya banjir masih tetap ada. kami berharap banyak agar Pemkab bisa membantu mencarikan solusi yang tepat untuk antisipasi,” terangnya. Sementara Kades Sidoharjo Marjana menuturkan akibat irigasi tersebut wilayahnya kerap terendam banjir. Bukan lagi persawahan yang direndam, namun pemukiman warga kerap terkena imbasnya. “Sempat kami benahi irigasi tersebut, namun pembenahan dirasa masih kurang baik. Sehingga ketika debit air anak Sungai Way Katibung meluap, air yang datang tak bisa lagi tertahan oleh irigasi yang rendah,” sebut Marjana. Masih kata Marjana, sejauh ini upaya yang dilakukan baru sebatas melaporkan pemicu banjir beberapa waktu lalu. Sedangkan untuk selanjutnya ia berharap Pemkab memperhatikan kondisi irigasi tersebut. “Kami berharap banyak agar yang ada saat ini dibenahi, kalaupun sudah dibenahi masih terjadi banjir maka itu diluar kuasa kita, yang jelas kita sudah berupaya untuk mengantisipasi. Saat ini baru kami laporkan penyebabnya, mudah-mudahan segera ditanggapi,” terangnya. Pada bagian lain Camat Way Panji Isro Abdi mengatakan pihaknya masih was-was akan adanya banjir susulan. Pasalnya cuaca tak pernah bisa diprediksi bahkan cenderung hujan disore hari. “Terus terang kami Uspika Way Panji masih was-was, penyebab utamanya memang irigasi yang berada diareal pemukiman dan persawahan,” imbuhnya. Dikecamatan Palas, untuk mengetahui titik rawan banjir, Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWS-MS) melakukan pemetaan di sepanjang aliran Sungai Way Pisang, Jumat (2/3) pekan lalu. Pemetaan titik koordinat itu dimulai dari hilir di Desa Bandanhurip Kecamatan Palas, sampai Kecamatan Penengahan. Pemetaan dilakukan menggunakan drone. Konsultan Kajian BBWS-MS Heri Aryanto menerangkan pemetaan Sungai Way Pisang dilakukan untuk mengetahui kondisi aliran sungai, serta untuk mengetahui pemaanfaatan sepanjang aliran sungai . “Tujuannya untuk mengetahui kondisi sisi kiri dan kanan sepanjang aliran Sungai Way Pisang ini, serta pemanfaatannya di sepanjang aliaran way pisang sebagai apa,” ujarnya. Selain itu, lanjut Aryanto, pemetaan tersebut sebagai kajian awal untuk mengetahui titik potensial rawan banjir disepanjang aliran Sungai Way Pisang. “Dalam pemetaan ini kajian dapat di petekan secara lebih ditail lokasi mana saja yang rawan banjir dan longsor pada tebing sungai. Tindak lanjut penanggulangannya bisa dilakukan normalisasi, pembuatan tanggul, pembuatan pintu air serta pengerukan,” ujarnya. Aryanto mengharapkan masyarakat ikut menjaga dan menumbuhkan rasa memiliki sungai, sebagai sumber kehidupan berbagai macam biota yang berada di Sungai Way Pisang yang bermanfaat bagi masyarakat di sekitar sungai. “Selain itu dalam menjaga kelestarian Sungai Way Pisang masyarakat juga mesti memulai meningkatkan pengetahuan tentang hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan tidak di lakukan di sepanjang aliran sungai,” Pungkasnya. (ver /cw1)
Sumber: